MĪṮĀQAN GHALĪẒAN DALAM TAFSIR AḤKĀM

RELEVANSINYA TERHADAP PENGUATAN PERLINDUNGAN HUKUM PERKAWINAN DALAM HUKUM KELUARGA ISLAM KONTEMPORER

Authors

  • Husnatul Faj’riyah Surbakti UIN Sumatera Utara, Indonesia
  • Faisal Hamdani UIN Sumatera Utara, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.30868/am.v14i01.10669

Keywords:

Mīṯāqan Ghalīẓan, Tafsir Ahkām, Nikah Siri

Abstract

Praktik nikah siri di Indonesia terus menimbulkan perdebatan karena dipandang sah menurut fikih apabila memenuhi rukun dan syarat perkawinan, namun berpotensi menghilangkan perlindungan hukum terhadap hak-hak istri dan anak akibat tidak adanya pencatatan perkawinan. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna mīṯāqan ghalīẓan dalam QS. An-Nisā' ayat 21 menurut perspektif tafsir ahkām serta mengkaji relevansinya terhadap kebijakan pemidanaan nikah siri dalam hukum keluarga Islam di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir tafṣīlī. Data primer berupa QS. An-Nisā' ayat 21 serta kitab Aḥkām al-Qur'ān karya al-Jaṣṣāṣ dan Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān karya al-Qurṭubī, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, artikel ilmiah, dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hukum perkawinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mīṯāqan ghalīẓan merupakan perjanjian agung yang melahirkan tanggung jawab hukum, perlindungan hak, komitmen perkawinan, dan kemaslahatan keluarga. Nilai-nilai tersebut diimplementasikan dalam fikih melalui pengaturan mengenai mahar, nafkah, larangan tadlīs, serta mekanisme fasakh. Dalam konteks hukum keluarga Indonesia, konsep tersebut menjadi landasan normatif bagi penguatan kebijakan pencatatan perkawinan dan pemberian sanksi ta'zīr terhadap pelanggaran yang menghilangkan perlindungan hukum bagi perempuan, anak, dan keluarga.

References

Al-Jaṣṣāṣ, A. B. A. ibn ʿA. al-R. (n.d.). Aḥkām al-Qur'ān (Juz 2). Beirut: Dār Iḥyā' al-Turāth al-'Arabī.

Al-Nawawī, Y. ibn S. (n.d.). Al-Majmū' Sharḥ al-Muhadhdhab (Juz 16). Jeddah: Maktabah al-Irsyād.

Al-Qurṭubī, M. ibn A. (2006). Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān (Vol. 6). Beirut: Mu'assasah al-Risālah.

Ibn Manẓūr. (n.d.). Lisān al-'Arab (Vol. 10). Beirut: Dār Ṣādir.

Ibn Qudāmah, M. A. D. (1997). Al-Mughnī (Juz 9). Riyadh: Dār ʿĀlam al-Kutub.

Jauhari, I., et al. (2023). A legal Analysis of Unregistered Marriages From Ulamas' Perspectives in Aceh Province. Petita: Jurnal Kajian Ilmu Hukum dan Syariah, 8(2), 179–187.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (1991). Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.

Miranda Mora, A. M. (2025). Love and law: The paradox of marriage. Hegel Bulletin, 1–17.

Muslim ibn al-Ḥajjāj. (n.d.). Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār Iḥyā' al-Turāth al-'Arabī.

Najihah, B. N., & Jalil, A. A. (2022). Metode istinbath Al-Qurthuby dalam Penafsiran Ayat Poligami. Tafakkur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, 2(2), 190–205.

O'Sullivan, K., & Jackson, L. (2017). Muslim Marriage (Non)Recognition: Implications and Possible Solutions. Journal of Social Welfare and Family Law, 39(1), 45–63.

Republik Indonesia. (1974). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Saleh, M., Riyadi, A. K., & Mubarok, N. (2024). Tafsir Maqasid Dalam Memahami Ayat-Ayat Hukum: Analisis Tafsir Al-Jassas. Living Islam: Journal of Islamic Discourses, 7(2), 379–404.

Sani, H. (n.d.). Problematika Nikah Siri (Analisis Urgensi Pencatatan Perkawinan Perspektif Ushul Fiqh).

Al-Zuḥaylī, W. (1989). Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh (Juz 9). Damaskus: Dār al-Fikr

Downloads

Published

2026-05-30

How to Cite

Surbakti, H. F., & Hamdani, F. (2026). MĪṮĀQAN GHALĪẒAN DALAM TAFSIR AḤKĀM: RELEVANSINYA TERHADAP PENGUATAN PERLINDUNGAN HUKUM PERKAWINAN DALAM HUKUM KELUARGA ISLAM KONTEMPORER. Al-Mashlahah Jurnal Hukum Islam Dan Pranata Sosial, 14(01), 47–56. https://doi.org/10.30868/am.v14i01.10669

Citation Check